Sabtu, 28 Februari 2026

Menggerakkan Tim: Memahami Perilaku Kelompok dalam Manajemen Actuating

Mengapa Perilaku Kelompok Penting dalam Actuating?

Dalam fungsi manajemen, Actuating (penggerakan) adalah tahap di mana rencana benar-benar dijalankan. Pada tahap ini, manajer tidak lagi hanya menyusun strategi, tetapi menggerakkan individu menjadi kekuatan kolektif.


Manajemen Actuating 4 Indocakti Malang



Organisasi tidak berjalan oleh individu yang bekerja sendiri, melainkan oleh kelompok dan tim kerja. Oleh karena itu, memahami perilaku kelompok menjadi kunci dalam:
  1. Meningkatkan efektivitas kerja
  2. Mengelola konflik
  3. Meningkatkan motivasi
  4. Menciptakan sinergi tim

Perilaku Kelompok

Kelompok adalah dua individu atau lebih, berinteraksi, bergabung bersama untuk mencapai tujuan tertentu.
Kelompok adalah dua orang atau lebih yang Saling berinteraksi, Memiliki tujuan Bersama, Saling mempengaruhi, dan Memiliki struktur peran tertentu
Perilaku Kelompok adalah studi tentang bagaimana individu bertindak, bereaksi, dan berinteraksi ketika berada dalam satu wadah kolektif.





Konsep Dasar Perilaku Kelompok

Kelompok Formal : Dibentuk organisasi (misal: divisi pemasaran)
Kelompok Informal : Terbentuk secara alami (misal: kelompok diskusi mahasiswa)

Konsep Dasar: Sinergi dan Interdependensi

Sinergi: Tim kerja yang efektif menciptakan sinergi positif melalui koordinasi.
Interdependensi: Ketergantungan antar anggota. (Keberhasilan Si A dalam tim sangat dipengaruhi oleh kualitas kerja Si B).

Tahap Perkembangan Kelompok

Menurut Bruce Tuckman, kelompok berkembang melalui 5 tahap:

  1. Forming : Tahap perkenalan, masih sopan
  2. Storming : Mulai muncul konflik dan perbedaan, Mulai muncul gesekan ide, perebutan pengaruh, dan resistensi terhadap kontrol.
  3. Norming : Mulai terbentuk norma dan kekompakan
  4. Performing : Tim bekerja efektif, Tahap performa. Kelompok berfungsi penuh untuk menyelesaikan tugas.
  5. Adjourning : Pembubaran kelompok

Analisis

Banyak tim gagal bukan karena kurang pintar, tetapi berhenti di tahap storming dan tidak mampu melewati konflik.

Tujuan Mempelajari Perilaku Kelompok

  1. Mengetahui alasan di balik konflik dan kerja sama.
  2. Optimasi Kinerja
  3. Pengambilan Keputusan
  4. Prediksi Perilaku terhadap perubahan kebijakan

Manfaat bagi Calon Manajer

  1. Mampu menyatukan anggota yang memiliki latar belakang berbeda.
  2. Mampu mendeteksi anggota yang malas karena merasa beban sudah ditanggung orang lain.
  3. Meningkatkan Motivasi
  4. Komunikasi Efektif:

Peran Anggota dalam Kelompok.

  1. Leader
  2. Coordinator
  3. Implementer
  4. Evaluator
  5. Mediator

Motivasi dalam Perilaku Kelompok

Motivasi adalah energi penggerak perilaku.Teori Hierarki Kebutuhan. Dikemukakan oleh Abraham Maslow:

  1. Fisiologis
  2. Keamanan
  3. Sosial
  4. Penghargaan
  5. Aktualisasi diri

Teori Dua Faktor

Menurut Frederick Herzberg:
  1. Faktor Higienis : Gaji, kondisi kerja (mencegah ketidakpuasan)
  2. Faktor Motivator : Prestasi, pengakuan (mendorong kinerja tinggi)

Kepemimpinan dalam Tim

Gaya Kepemimpinan, Menurut Kurt Lewin, ada 3 gaya utama:
  1. Otoriter : Semua keputusan di tangan pemimpin
  2. Demokratis : Anggota dilibatkan
  3. Laissez-faire : Bebas tanpa arahan kuat

Kepemimpinan Transformasional

  1. Menginspirasi visi
  2. Memberi motivasi intrinsik
  3. Menjadi role model
  4. Mendorong inovasi

Dinamika dan Perilaku Kerja dalam Kelompok

  1. Kelompok gagal jika: Semua ingin jadi pemimpin,Tidak ada pembagian peran jelas, Tidak ada komunikasi efektif
  2. Konflik dalam Kelompok: Konflik tugas (positif jika dikelola), Konflik pribadi (merusak jika tidak dikendalikan)
  3. Manajer perlu: Mendengarkan, Memfasilitasi dialog, Menjaga objektivitas.

Social Loafing:

Fenomena di mana individu bekerja lebih santai saat dalam kelompok. maka solusi :

  1. Evaluasi individual
  2. Tugas jelas
  3. Target terukur

Analisis Kritis untuk diri anda:

  1. Bagaimana motivasi mempengaruhi kekompakan tim?
  2. Bagaimana gaya kepemimpinan mempengaruhi kinerja kelompok?
  3. Mengapa konflik bisa meningkatkan kualitas keputusan?

Studi Kasus: Sinergi Hilang di Divisi Pemasaran

PT. NGALOR NGIDUL. membentuk sebuah tim lintas fungsi untuk meluncurkan produk baru dalam 3 bulan. Tim ini terdiri dari Budi (Produksi), Sinta (Pemasaran), dan Andi (Keuangan).

Masalah:

Di bulan pertama, rapat selalu berakhir dengan perdebatan sengit antara Budi dan Sinta. Budi merasa desain produk sudah sempurna, sementara Sinta merasa produk tersebut sulit dijual karena harganya terlalu tinggi karena biaya produksi yang boros menurut hitungan Andi. Mereka terjebak dalam ego masing-masing.

Analisis Anda ?

Tahapan Apa? Tim ini sedang berada dalam tahap Storming. Konflik muncul karena perbedaan persepsi dan tujuan individu.

Solusi 

  1. Manajemen (Actuating): Sebagai pemimpin, apa yang harus dilakukan?
  2. Kepemimpinan: Pemimpin harus bertindak sebagai fasilitator untuk menyamakan visi .
  3. Motivasi: Memberikan insentif yang berbasis performa tim, bukan individu, agar Andi, Budi, dan Sinta merasa terikat satu sama lain.
  4. Perhatikan:
  5. Kelompok efektif bukan berarti kelompok tanpa konflik. Justru, konflik dikelola dengan baik melahirkan inovasi.

Tugas Anda sebagai calon manajer adalah memastikan badai (storming) tersebut berubah menjadi norma (norming) yang produktif.

Link terkait materi Actuating: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar